Penderita
penyakit jantung koroner dari tahun ke tahun semakin meningkat. Penyebab
utamanya adalah kandungan kolesterol yang tinggi dalam darah manusia
(hiperkolesterol). Beragam obat penurun kolesterol jahat ini pun sudah banyak
bermunculan di tengah masyarakat. Guna memberikan alternatif pengobatan,
baru-baru ini Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam penelitiannya pada
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berhasil menciptakan permen tiramisu
antikolesterol. Permen yang dibuat dari jamur tiram putih.
Ketua Tim
Pelaksana Penelitian, Waliyuddin dari Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) IPB, menuturkan, jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus)
dapat berfungsi sebagai antikolesterol karena memiliki kandungan lovastatin
yang cukup tinggi. “Hanya saja manfaat jamur tiram putih tersebut secara ilmiah
belum banyak diketahui. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan
pengujian terhadap jamur tiram putih sebagai antikolesterol dan pengujian AST (Aspartat
Transaminase) serta ALT (Alanin Transaminase) sebagai respon
toksisitas hati terhadap jamur tiram putih,” kata Waliyuddin yang didampingi
Dosen Pembimbing, drh. Sulistiyani, MSc., PhD.
Jamur tiram
putih (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur yang digunakan oleh bangsa
India dan Cina sebagai bahan obat untuk mengobati penyakit hiperkolesterol.
Dalam ekstrak jamur tiram putih terdapat senyawa lovastatin yang dapat
menghambat terbentuknya kolesterol dalam darah. Senyawa ini akan menghambat
sintesis kolesterol dalam darah manusia. Secara tidak langsung, adanya
lovastatin dalam jamur tiram putih juga menjadi agen dalam mengobati penyakit
jantung koroner di masyarakat.
AST dan ALT merupakan dua enzim
transminase yang dihasilkan terutama oleh sel hati. Bila sel hati rusak,
kandungan kedua enzim ini akan meningkat. Kedua enzim ini umum digunakan
sebagai indikator untuk mendeteksi kerusakan jaringan hati. Hal ini dikarenakan
kedua enzim ini akan meningkat drastis, jika kondisi hati rusak.
Prosedur
analisis data dimulai dengan memotong-motong jamur tiram putih (Pleurotus
ostreatus) sebesar 5 sentimeter. Sampel dijemur di bawah sinar matahari
terik selama tiga jam dan dioven dengan suhu 40-45derajat Celsius selama 18
jam. Jamur tiram putih kering kemudian dihaluskan dan diayak dengan ukuran 80
mesh sehingga membentuk simplisia (serbuk).
Simplisia
jamur tiram putih diekstrak dengan menggunakan metode soxhletasi. Pelarut yang
digunakan adalah etanol 96 persen dengan volume 100 mililiter. Sampel yang
digunakan sebanyak 10 gram simplisia. Ekstraksi dilakukan selama 4-5 jam. Sisa
pelarut yang berada dalam labu ukur ditampung dan diuapkan dengan rotary
evaporator. Ekstrak kemudian ditimbang dengan neraca analitik.
Uji
fitokimia dilakukan guna mengetahui kandungan dari ekstrak jamur tiram putih.
Uji yang dilakukan adalah uji alkaloid, flavonoid, saponin, steroid,
triterpenoid, tanin, dan polifenol. Metode Harborne merupakan metode yang
digunakan untuk menentukan uji fitokimia ekstrak jamur tiram putih.
Kandungan
lovastatin diukur pada serbuk jamur tiram putih. Satu gram serbuk diekstrak
dengan larutan asetonitril dan larutan asam fosfat 0,1 persen, dan dibiarkan
selama 30 menit, kemudian larutan disentrifuse selama 10 menit. Supernatannya
diambil dan diinjeksikan pada kolom High Performance Liquid Chromatography
(HPLC), maka jumlah lovastatin dapat diukur.
Pengujian
dilakukan pada 35 ekor hewan model tikus jantan dewasa, rata-rata bobot badan
135 gram, yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok normal (N),
kelompok hiperkolesterolemia (HK), kelompok lovastatin (L), kelompok perlakuan
I (PI), dan perlakuan II (PII)
Hasil pengukuran
AST pada darah tikus di akhir perlakuan menunjukkan bahwa kelompok PII berbeda
nyata dengan kelompok N dan HK. Kelompok PII tidak berbeda nyata dengan
kelompok L dan PI. Kelompok N, HK, L, dan PI tidak berbeda nyata. Dan hasil
pengukuran ALT. Hasil uji statistika menunjukkan bahwa semua kelompok tidak
berbeda nyata.
Hasil yang
diperoleh membuktikan bahwa pemberian ekstrak etanol jamur tiram putih tidak
merusak hati tikus. Data hasil pengukuran AST dan ALT kelompok PI dan PII,
ternyata lebih rendah dibandingkan kelompok lainnya. Data hasil pengukuran
tersebut menunjukkan bahwa ekstrak etanol
jamur tiram putih dapat berfungsi sebagai hepatoprotekto (pelindung hati).
Permen
Permen
Tiramisu telah berhasil dicetak dengan menggunakan alat pencetak tablet. Pembuatan
permen sebagai produk akhir dalam mengemas jamur tiram putih sebagai agen anti
kolesterol. Ekstrak yang
ditambahkan dalam 100 gram formula permen sebesar 2,1 gram. Artinya, dalam
setiap 1 gram permen mengandung 21 miligram ekstrak. Jika setiap 1 gram ekstrak
mengandung 3,6 mikrogram lovastatin, maka setiap 1 gram permen mengandung
75,6 mikrogram lovastatin. Permen yang dibuat memiliki bobot sebesar 100
miligram, sehingga dalam setiap permen mengandung 2,1 miligram ekstrak dan
mengandung 7,56 mikrogram lovastatin
“Pembuatan
obat dalam bentuk permen Tiramisu diharapkan dapat menjadi alternatif pilihan
dalam mengobati hiperkolesterolemia pada masyarakat,” pungkas Waliyuddin yang
diamini anggota kelompok Elvira Yunita, Nailatul Karomah, Yusuf Irshan, dan
Amelia. (nm)
sumber:




0 komentar:
Posting Komentar